pemeran kedua
ya. gue sekarang di sini.
di tengah sekumpulan orang, di tengah segala cerita, di tengah keramaian.
dan gue di sini.
merasa sepi.
bukan. bukan sepi. merasa sendiri tepatnya.
entah kenapa.
padahal anggapan semua orang untuk seorang gue adalah
"lo mah temennya banyak"
"ih pasti lo ikut acara angkatan, temen lo kan banyak"
"lo undang siapa aja, pasti rame kan temen lo banyak"
iya gue paham, gue memang memiliki sekumpulan teman. yang mungkin bisa kalian simpulkan kalau itu tergolong banyak.
tapi kenapa
setiap gue sedih
gue memilih sendiri
kalian bisa salahkan gue. kalian akan berpikir bahwa gue yang bodoh di sini. gue saja yang memang gamau menghubungi mereka.
namun
ketika kalian sedih apa kalian akan membaik ketika melihat orang lain tidak peduli? bahkan ketika kau sudah cerita semuanya. dan mereka masih tidak peduli.
tenang, teman-teman gue ga sejahat yang mungkin kalian pikir tentang ga peduli.
tapi.. gue paham. gue paham kalau mereka memang ga peduli. mereka hanya ingin tahu dan..
sudah.
besok atau lusa mereka akan lupa dengan masalah gue dan pada akhirnya gue akan sendiri.
daripada membuang waktu
lebih baik dari awal sendiri, iya kan?
gue merasa hidup seperti pemeran kedua di hidup gue sendiri. menjadi seorang yang pada awalnya memang tidak diperhatikan. menjadi seorang yang seakan tidak memiliki masalah. padahal hanya tidak terekam kamera. mungkin ada masanya gue dilihat, namun ketika pemeran utama kembali. gue seakan tidak pernah ada. dan semua ini akan berakhir bahagia. namun bukan gue di sana. tapi sang pemeran utama. dan gue hanya akan di ingat sebagai "si pemeran kedua".
in do ne si a
mungkin menurut kalian saya terlalu nasionalis.
atau terlalu berpikir lurus.
namun dengan kejujuran, saya benar-benar ingin mengubah negeri ini.
bukan, bukan menjadi seperti negeri yang saya inginkan, tetapi lebih tepatnya seperti negeri yang semua rakyat ini harapkan.
saya sedih. ketika teman-teman saya, generasi muda ini, menolak dengan mentah untuk mengubah negeri ini. bukan karena mereka ingin melupakan indonesia. bukan karena mereka benci indonesia. hanya karena mereka takut.
iya, takut.
takut akan pemerintahan yang penuh dengan politik kotor. politik yang bercabang, tidak ada satu tujuan.
iya memang politik di tanah ini terlihat untuk kemakmuran perseorangan. terlalu sedih melihat kenyataan ini.
keluarga saya berada di bidang politik dan saya tahu pasti apa itu politik indonesia. terlalu keji. terlalu jahat. politik ini seakan merobek hati nurani semua pihak yang terlibat dan mendoktrin untuk tidak melihat ke bawah. melihat kepada kenyataan yang menyedihkan di negri ini.
namun...
sebelum saya mengembuskan nafas terakhir, saya ingin melihat indonesia berada pada posisi yang lebih baik. bukan, bukan hanya lebih baik. namun menjadi negara yang bangga dengan negaranya. bukan bangga karena di puji negara lain atau bangga karena banyak remajanya yang kuliah di luar negri atau bangga karena banyak manusianya yang dapat berbagai bahasa.
saya hanya ingin indonesia bangga dengan bahasanya, dengan alamnya, dengan pendidikannya, dan dengan sejarahnya.
sejarah indonesia adalah cerita paling indah yang pernah saya baca dari berbagai cerita di buku-buku manapun.
sejarah indonesia itu cantik.
saya hanya tidak ingin di puluhan tahun mendatang, para pelajar akan mempelajari sejarah yang semakin memburuk. saya ingin pelajar nanti merasakan keindahan yang saya rasakan ketika mempelajari sejarah.
begitu mempesna sejarah indonesia. dengan segala pehlawan yang bahkan mereka tidak tahu bahwa sekarang berjuta-juta orang mengenal dia.
semoga niat ini dapat terus berada di hati saya.
ntah
ada suatu masa dimana saya merasa ingin meninggalkan kehidupan saya yang sekarang. ntah kenapa. padahal tak ada masalah. semua berjalan baik-baik saja. orang lain bahagia, teman-teman saya bahagia, keluarga saya bahagia, dan
saya bahagia.
namun entah dari mana, entah sejak kapan, entah kenapa, saya merasa ingin pergi, ingin melupakan ini semua.
otak bersugesti bahwa ini adalah masa terindah dalam hidup saya. otak ini berkata untuk bertahan dan membuat orang lain bertahan dimasa ini. karena ini puncak kebahagiaan dalam hidup saya.
tapi hati berkata lain. hati menyuruh pergi. lari. jangan berlama-lama disini. sudah cukup tawa itu bermelodi. saya harus cepat-cepat kabur.
saya sendiri tak tau kenapa. tapi hati terus memberontak. berteriak untuk pergi.
jujur, saya ingin menetap. saya suka suasana ini. suasana menyenangkan dengan semua kebahagiaan. namun saya selalu percaya apa yang hati katakan. karena dia yang paling memahami.
apa bahagia saya selama ini merupakan kesalahan? apa ternyata ini semua hanya tipu muslihat untuk menjerumuskan saya ke masa terburuk dalam hidup ini?
dan sekarang saya tak tau harus apa.
12 april.
selesai un sudah.
masa-masa mengenal fisika dan kimia sudah selesai. masa-masa menghafal organ tubuh virus sudah selesai. masa-masa begadang larut malam untuk tau apa itu gaya sentripetal sudah usai.
saya sangat berterima kasih untuk memberi warna pada kehidupan saya. mungkin kalau tidak ada pelajaran-pelajaran itu, hidup saya akan membosankan. hal yang sulit kadang diperlukan memang.
bukan menjadikan dorongan untuk turun, namun menjadi warna tersendiri. warna yang kelam, namun dengan sedikit senyum dapat menjadi pelangi menenangkan.
saya tidak mengatakan untuk ingin kembali bersama pelajaran-pelajaran itu, namun saya bersyukur saya pernah mengenal kalian. walau hanya mengenal, saya cukup senang dan tidak ada rasa untuk ingin mengenal lebih dalam.
kalian menyenangkan, namun bukan saya tempat kalian. bukan saya orang yang tepat untuk dapat bersenang-senang bersama. saya cukup senang melihat ada orang lain yang menikmati kesenangan itu bersama kalian.
untuk teman-teman saya, saya selalu berdoa untuk kesuksesan kalian. ntah bagi yang menetap dengan segala hitung menghitung alam, atau yang mengekor dengan saya bepindah haluan untuk mengenal sifat-sifat manusia lebih dalam.
dan sekanag, 12 april 2016, saya resmi selesai dengan fisika, kimia, dan biologi.
senang mengenal kalian.
maaf karena saya tidak dapat mengatakan, sampai bertemu di lain waktu.
masa-masa mengenal fisika dan kimia sudah selesai. masa-masa menghafal organ tubuh virus sudah selesai. masa-masa begadang larut malam untuk tau apa itu gaya sentripetal sudah usai.
saya sangat berterima kasih untuk memberi warna pada kehidupan saya. mungkin kalau tidak ada pelajaran-pelajaran itu, hidup saya akan membosankan. hal yang sulit kadang diperlukan memang.
bukan menjadikan dorongan untuk turun, namun menjadi warna tersendiri. warna yang kelam, namun dengan sedikit senyum dapat menjadi pelangi menenangkan.
saya tidak mengatakan untuk ingin kembali bersama pelajaran-pelajaran itu, namun saya bersyukur saya pernah mengenal kalian. walau hanya mengenal, saya cukup senang dan tidak ada rasa untuk ingin mengenal lebih dalam.
kalian menyenangkan, namun bukan saya tempat kalian. bukan saya orang yang tepat untuk dapat bersenang-senang bersama. saya cukup senang melihat ada orang lain yang menikmati kesenangan itu bersama kalian.
untuk teman-teman saya, saya selalu berdoa untuk kesuksesan kalian. ntah bagi yang menetap dengan segala hitung menghitung alam, atau yang mengekor dengan saya bepindah haluan untuk mengenal sifat-sifat manusia lebih dalam.
dan sekanag, 12 april 2016, saya resmi selesai dengan fisika, kimia, dan biologi.
senang mengenal kalian.
maaf karena saya tidak dapat mengatakan, sampai bertemu di lain waktu.
hari sabtu.
sudah 4 hari ujian sekolah saya lalui. tepatnya kami [siswa kelas xii].
untuk pertama kalinya dalam kehidupan sma saya, saya mengerjakan semua soal ujian dengan kemampuan dan kepercayaan diri saya.
dulu,
bukan berarti tida mampu menjawab soal. namun saya tidak mempunyai keberanian untuk diri saya sendiri. saya selalu berpikir apa yang mereka kerjakan akan selalu lebih baik dari hasil saya.
atau setidaknya, saya tidak akan sendiri ketika mendapat nilai rendah.
namun saya baru menyadari, sifat itu hanya dimiliki oleh manusia lemah. bukan fisik, tetapi lemah dalam mentalnya. dalam dirinya.
oleh karena saya tidak mau menjadi manusia seperti itu, saya memutuskan untuk ujian sekolah ini saya melaksanakannya dengan kejujuran tingkat tinggi.
bukan karena ingin menjadi manusia yang lebih baik saja,
saya juga ingin bekerja dengan hasil saya sendiri. mungkin nanti ketika saya akan mencari pekerjaan, saya akan menunjukkan ijazah yang kalau dimasa sma saya telah tidak jujur maka ijazah itu juga tidak jujur. mungkin lebay, namun tidak ada yang dapat memastikan kalau nanti pekerjaan saya disebut halal atau tidak dari sebuah ijazah.
hidup memang tidak serumit itu. tapi hidup juga tidak sesederhana itu.
pikirkan hal-hal kecil yang mungkin mempengaruhi dimasa mendatang.
itupun kalau kalian ingin hidup dimasa mendatang. bila kalian hanya akan hidup dalam ego, silahkan lakukan apa yang anda anggap benar sekarang.
kalau saya, tak apa hidup sekarang menderita, namun kehidupan mendatang kelak akan lebih baik.
salam damai.
29 Februari.
29 Februari.
Kembali menghirup tanggal ini setelah 5
tahun menunggu. Sebenarnya tidak ada yang special, namun kadang yang unik
adalah yang ditunggu. Walaupun saya bingung apa yang saya tunggu.
Hari ini tepat 38 hari lagi sebelum saya
meninggalkan sekolah ini. Sekolah saya selama 3 tahun.
Tidak disangka hari ini penuh kejutan.
Senyum bahagia, tawa terbahak, ekspresi
datar, hingga nangis tersedu-sedu.
Saya sudah sering melihat pemandangan ini
setiap hari. Namun berbeda untuk hari ini. Hari ini semua ekpresi itu menjadi
satu. Bahkan terdapat ekspresi yang siap memakan siapa saja yang memanggil
namanya.
Keanehan pada hari ini terjadi karena
pemerintah mengumumkan beberapa jumlah murid yang dapat menggantungkan
impiannya pada ujian masuk universitas ‘tanpa tes’.
Ya mungkin bahasa kininya adalah undangan
untuk universitas.
Sejak pagi, semua siswa berwajah takut. Yang
berwajah tidak peduli pun diam-diam mengumpat dalam hati. Ntah munafik atau
tidak, saya pun tidak peduli namun ingin tahu apa hasil yang diberikan
pemerintah kepada hasil belajar saya selama 3 tahun.
Saya belajar banyak mengenai penolakan. Namun
ketika saya melihat wajah bahagia dari teman saya, seketika itu juga saya lupa
dengan rasanya ditolak. Dan saya tidak mau merasakannya. Perasaan egois muncul
dalam diri. Berdoa dan berdoa.
Dan ternyata saya termasuk dari beberapa
siswa yang diberi ucapan selamat dalam websitenya.
Senang? Tentu.
Namun tiba-tiba saya menyadari, kalau saya
diterima pada tahap ini, apa yang harus saya lakukan ditahap berikutnya? Jurusan
apa yang akan saya ambil? Kebimbangan pun muncul. Dan saat itu pula saya
berharap kembali ke beberapa menit yang lalu dan berdoa agar saya ditolak.
Bukan bermaksud sombong, tapi saya tau ini
adalah sebuah wadah untuk setiap orang berharap. Dan saya adalah orang. Dan saya
akan berharap. Dan saya benci berharap untuk sesuatu saya tau jawabannya tidak
sesuai dengan harapan saya.
Berbagai suara dari guru-guru menghantui
saya.
“kamu gamungkin masuk ips. Kamu kan ipa”
“kamu membuang kesempatan”
“sayang sekali kalo tidak ambil ipa”
memang benar saya ingin mengambil jurusan social
yang jelas bukan jurusan saya sekarang. Saya dalam kebimbangan. Apa saya
mengikuti hati atau mengikuti kata lingkungan.
Kalau seandainya pada tahap tadi saya
ditolak, sekarang saya sudah dalam proses memantapkan hati dan pikiran untuk
berjuang di ujian tertulis dan saya jelas mengharapkan sesuatu yang dapat saya
usahakan.
Kalau sudah begini, saya pasti akan
mengambil jurusan social untuk ujian tanpa tes ini.
Walaupun saya tau, saya paham, saya mengerti
bahwa saya tidak akan diterima dalam jalur ini, namun saya tidak bisa munafik. Saya
tetap berharap walau hanya setitik. Saya masih berdoa untuk kesempatan ini.
Bodoh memang, namun saya manusia biasa yang
gemar berharap.
saya
saya.
yang
di manapun saya berada, disana ada hujatan.
hah
pasti kalian lelah dengar semua cerita hidup saya mengenai hujatan. saya
sendiri pun sudah tak punya keberanian untuk cerita tentang hal ini ke sahabat
saya.
saya
takut dia bosan. saya takut dia pergi.
saya
lelah. saya selalu berusaha yang terbaik.
saya
kasihan dengan diri ini. dengan hati ini. salah apa mereka. kalau kalian mau
hujat, silahkan. tapi bisa saya minta tolong?
tolong
jangan lukai satu pun bagian dalam diri saya. terutama hati.
karena
saya hidup dengan hati. saya sampai ke titik ini bukan karena saya kuat, tapi
karena hati ini menemani. kalau hati ini pun sudah menyerah, siapa lagi penguat
diri ini?
sebenarnya
bukan tawa yang ingin dikeluarkan wajah saya. tapi hati saya berbicara itu cara
terbaik. hati ini selalu mengorbankan diri untuk disakiti. padahal bisa saja
mata saya yang sakit karena air mata.
namun dia tidak mau mata ini sakit. cukup dia. hati saya.
semakin
tumbuh, saya semakin merasa hidup saya tidak semakin membaik. usaha yang saya
kerjakan selalu kasat bagi orang lain. bukan orang lain sebenarnya. tapi
orang-orang terdekat saya.
keluarga.
sahabat.
teman.
mungkin
bila keluarga saya memiliki daftar kerabat terbodoh, saya ada di daftar nomor
satu.
mungkin
bila sahabat saya memiliki daftar sahabat yang tidak berguna, saya ada di
daftar teratas.
mungkin
bila teman saya memiliki daftar orang yang mudah dimanfaatkan, saya lah
satu-satunya didaftar itu.
seberapa
keras pun bibir ini berteriak saya ingin berubah, tapi lingkungan mengatakan
kalau ini lah jati diri saya. saya yang
bodoh, tidak berguna, mudah dimanfaatkan.
inilah
saya.
sendiri?
percayalah hati lebih dari ini pernah kita lalui.
kata-kata yang selalu saya ingat setiap kali ada masalah. kata-kata yang membuat saya kuat. kata-kata yang membuat bibir ini tersenyum lagi, seberat apapun lara yang saya rasakan.
saya bukan perempuan kuat. saya bukan perempuan bahagia.
tapi kuat dan bahagia adalah apa yang orang lihat di wajah ini. saya bukan munafik. cuma mau menutupi hujatan. saya lelah di hujat.
dulu, saya beber semua kesedihan ini. tapi apa kata mereka?
saya sampai tidak berpikir itu kata-kata. saya hanya melihat tawa. ntah apa maksudnya.
tapi mulai saat itu, saya baru sadar kalau saya memang seharusnya sendiri.
sendiri sekarang adalah kata kesukaan saya.
Langganan:
Postingan (Atom)