kesalahan



halo, malam.
apa kabar?
semoga baik-baik saja.

kalau saya sedang tidak baik, malam.
saya sedang duduk di pojokan sebuah kedai kopi di mall besar di pusat Jakarta.
sekeliling saya ramai, sangat ramai.
semua orang tertawa, bercerita, meluapkan rindu pada sesama, dan sebagainya.

tapi saya sedih
atau
kesal?

saya suka seseorang, malam.
lebih terhadap kagum mungkin.

saya ingin selalu melihat dia, bahkan saya benar-benar menghabiskan waktu untuk mencari tahu tentang dia.

saya sudah mengetahuinya sangat lama
namun
dia tidak tahu saya bernafas di bumi

saya ingin dia
tapi dia pun tak pernah mengetahui nama saya

sesekali saya bertemu dengannya
hanya lima detik
atau tujuh detik ku kira
aku menatapnya ketika dia berjalan disampingku, menuju arah yang lain
tidak ada sapa, atau lirikan
cukup aku yang sebisa mungkin berusaha melihat apa warna bola matanya
ternyata indah, malam!

semoga saya tidak salah liat.

enam atau tujuh kali saya bertemu dengannya dalam satu bulan
namun hal ini bukan sebuah pertanda baik.
karena dengan begitu, dia seperti sadar akan kehadiran ku di muka bumi

dan sekarang, ku melihat dia semakin menjauh
menjauh
menjauh
dan menjauh

dan aku pun mulai lupa wangi badannya yang diam-diam kuhirup ketika kami bertemu.

dan perasaan ini semakin sadar bahwa ketidakhadirannya adalah yang diharapkan semesta,

bahwa dia adalah sebuah kesalahan.

malam?

selamat pagi, malam.

sudah lama tidak bercengkrama.

apa kabar? semuanya baik-baik saja?
atau tidak baik seperti saat biasanya kita bertemu?

maaf selama ini saya tidak mengajak kamu ngobrol lagi,
bukan karena saya tidak punya waktu seperti yang kamu pikirkan
tapi memang sedang tidak ingin berjumpa.

saya pikir, kalau saya menjauhi hal yang dapat membuat saya berpikir lebih dalam, saya akan terbebas dari rasa sedih

saya pikir, kalau saya pergi dari hal-hal yang setiap saat saya pikirkan akan membuat saya merasa lebih baik

saya pikir, kalau saya tidak bertemu lagi dengan kamu saya akan bahagia.

dan ternyata itu memang hanya pikiran saya,
bukan kenyataan yang saya rasakan.

lalu, apa yang saya rasa?
terutama setelah kita jarang bertemu, malam.

saya merasa hidup di dunia orang lain, seperti pura-pura bahagia? menjadi orang lain? atau bahkan saya sedang berusaha mengubah diri saya?

memang, saya mendapatkan yang dahulu saya inginkan.
saya mendapat banyak orang disekeliling saya,
saya mendapatkan kebahagiaan yang dulu saya inginkan ketika melihat orang lain bergerombol,
saya mendapatkan pertemanan masa kini.

namun saya paham,
kita memang tidak akan benar-benar paham sebelum mengalaminya

setidaknya itulah yang saya pikirkan ketika saya mendapatkan hal-hal yang 'dulu' saya inginkan.

ternyata hidup dengan cara kita sendiri adalah hal terbaik yang pernah ada,
cukup syukuri apa yang kita punya,
bahkan bila saya hanya memiliki kamu, malam.

saya rindu ketika di kesunyian hanya ada aku dan kamu,
ketika saya meluapkan segala yang saya rasakan padamu,
ketika saya merasa kamu sengaja membuat semua manusia di bumi terlelap hanya untuk bicara dengan saya.

saya rindu masa-masa itu.

dan mungkin, mulai saat ini
saya akan kembali padamu, pada kesunyian yang kita ciptakan
kesunyian paling indah yang pernah saya rasakan.

semoga kamu masih ingin menerima.