mimpi. mimpi. mimpi. musnah.
semesta ini memang tempat yang indah untuk bermimpi
sangat indah
sampai rasa takut menghampiri
takut kalau-kalau mimpi itu menjadi kenyataan
lalu tidak ada lagi yang dapat diimpikan
namun, takutku lain
aku lebih takut pada kenyataan
saat mimpi itu tidak menjadi nyata
dan aku takut untuk bermimpi lagi
dan aku lebih takut lagi,
bila takutku akan mimpi menjadi nyata
dan tetap membiarkan mimpi itu menjadi mimpi
untuk selamanya
bahkan ketika dunia memberi jalan pintas untuk menjadikannya nyata
aku tetap menolak
karena aku takut.
kamu?
mencintaimu seperti tergelatak di kubangan lumpur.
awalnya,
semua terasa menyenangkan, untuk bersenda gurau, saling melempar tawa, melupakan kepenatan, hingga tidak peduli oleh kotornya pakaian.
namun,
setelah itu semua aku tahu, lambat laun, mau tidak mau, siap tidak siap, aku harus pergi dan membersihkan diri, aku akan menerima amarah karena bermain-mian di sana, dan aku tidak akan boleh pergi ke sana lagi.
begitulah kamu
seperti sebuah kesenangan, namun menyimpan segala ketidaknyamanan.
aku akan terus mengingat bahagianya namun aku tidak bisa merasakan bahagia itu lagi.
cukup sekali.
mungkin dua, bila tidak ada yang melihat.
23.54 thoughts
TAK LAGI
Karya:
Andi Kharisma
30
Maret 2015
Ombak tak lagi
menderu
Ketika bumi telah rapuh
Memandangi insan yang terus mengadu
Bintang tak lagi bertamu
Ketika malam telah jenuh
Mencumbu segala dusta kelabu
Senja tak lagi manyapa
Ketika jingga telah tiada
Meraba hati nurani yang telah binasa
Ranting tak lagi menjulang tinggi
Karna langit merintih
Mendengar segala yang terus berselisih
Dia tak lagi seorang pujangga
Bak hidup dalam sandiwara
Karna cakrawala tak lagi menaunginya
apa?
saya sebisa itu berkata 'iya' untuk 'apapun'
saya sebisa itu membantu siapapun
bahkan,
saya sebisa itu mengorbankan diri saya untuk orang lain.
saya pun bertanya-tanya,
"kenapa diri ini bisa?"
tiap malam saya menangis karena diri saya yang bodoh.
semua ini bukan karna saya dimanfaatkan, tapi
saya memanfaatkan diri saya sendiri
dan lebih bodohnya,
semua orang malah menghina saya karena semua yang saya lakukan.
saya di rendahkan karena saya yang selalu mengatakan iya.
dan pertanyaan saya sekarang,
apa yang harus saya lakukan?
saya sebisa itu membantu siapapun
bahkan,
saya sebisa itu mengorbankan diri saya untuk orang lain.
saya pun bertanya-tanya,
"kenapa diri ini bisa?"
tiap malam saya menangis karena diri saya yang bodoh.
semua ini bukan karna saya dimanfaatkan, tapi
saya memanfaatkan diri saya sendiri
dan lebih bodohnya,
semua orang malah menghina saya karena semua yang saya lakukan.
saya di rendahkan karena saya yang selalu mengatakan iya.
dan pertanyaan saya sekarang,
apa yang harus saya lakukan?
dah 2016.
mungkin ini akan menjadi posting terakhir saya di 2016.
menakjubkan.
2016 benar-benar membentuk karakter baru saya
(atau dapat disebut 2016 telah membunuh karakter
saya).
Dari awal memasuki 2016 hingga hampir bersua
dengan 2017, saya merasakan perubahan-perubahan yang drastis dalam diri saya.
2016 mengajarkan saya banyak hal, dari saya yang
sudah mampu memimpin sebuah kepanitiaan. Tidak lagi menjadi kacung seorang
ketua. Saya yang mulai berani melawan takdir yang ingin dibentuk oleh orang tua
saya. Saya yang mulai paham ketakutan-ketakutan saya yang sebenarnya. Menemukan
mimpi-mimpi baru. Melalui pengalaman baru yang bahkan tidak menjadi rencana
saya pada 2015 lalu. Bertemu orang-orang baru. Pergi meninggalkan orang-orang
lama. Masuk keluar dari kehidupan orang-orang. Dan menyaksikan para manusia
yang hilir mudik masuk ke kehidupan saya.
Sangat banyak cerita. Memori. Melodi. Kata-kata.
Air mata.
2016 adalah tahun paling bersejarah dalam hidup
saya, sejauh ini. Dari awal 2016 dimana saya adalah cerminan anak sekolah yang
memiliki tekad besar. Cita-cita besar. Penuh ambisi. Anak muda yang dari
matanya menyuarakan semangat untuk maju. Saya rindu diri saya yang seperti itu.
mendekati pertengahan tahun, anak muda itu
jatuh, gagal. Anak muda itu menangis sejadi-jadinya karena sudah merasa gagal. Hancur.
Satu kata yang menceritakan hidupnya kala itu. ambisinya selama ini seolah
tidak membuahkan hasil. Malah memperburuk keadaan.
Namun, suara-suara penyemangat itu hilir mudik
masuk telinganya. Orang-orang terdekat terus menyemangati. Sampai dia kembali
menjadi anak muda di awal tahun. Malah ambisi itu menjadi semakin berkobar
seperti disulut api.
Pertengahan tahun memberikan bukti hasil kerja
kerasnya. Semuanya berjalan sesuai rencana. Rasa syukur tak henti-hentinya
keluar dari mulut anak muda itu.
Hidupnya terus belajar mengikuti waktu yang
tanpa pamrih terus berjalan. Orang-orang baru, tempat baru, suasana baru,
lingkungan baru. Segala hal baru harus dia hadapi. Dan caranya menghadapi semua
ini hanya dengan, sifat baru. Berusaha menjadi lebih menyenangkan, lebih bijak,
dan lebih-lebih lainnya.
Naik turun terus terjadi. Kadang tertawa sampai
mual. Kadang menangis sampai sesak. Terus begitu. Sampai dia menemukan cara
bahagia yang baru. Menikmati sisi lain dari Indonesia di akhir tahun menjadi
pilihannya. Dunia terasa berbeda. Dia baru merasakan bahwa hidupnya selama ini
hanya serpihan debu dibanding segala yang ada di dunia. Dirinya hanya semut
kecil di semesta besar ini. Yang dilihatnya selama ini, hanya sepersekian
keindahan dari indahnya negeri ini. Dan mimpi-mimpi baru pun bermunculan.
Ya. Saya sekarang memiliki mimpi baru. Dan saya
berharap, saya akan memiliki ambisi sama seperti saya di awal tahun 2016. Seorang
yang bertekad besar, penuh semangat, penuh mimpi. Dan saya berharap juga, hal
itu akan terwujud seperti pada tahun 2016 pula.
Saya tau dunia tidak sesederhana itu. namun saya
memohon agar dunia dapat terus berpihak pada saya.
2017 akan saya awali dengan senyuman dan semoga dilalui
dengan senyuman dan berakhir pula dengan senyuman.
Jangan lupa bahagia.
Langganan:
Postingan (Atom)