29 Februari.
Kembali menghirup tanggal ini setelah 5
tahun menunggu. Sebenarnya tidak ada yang special, namun kadang yang unik
adalah yang ditunggu. Walaupun saya bingung apa yang saya tunggu.
Hari ini tepat 38 hari lagi sebelum saya
meninggalkan sekolah ini. Sekolah saya selama 3 tahun.
Tidak disangka hari ini penuh kejutan.
Senyum bahagia, tawa terbahak, ekspresi
datar, hingga nangis tersedu-sedu.
Saya sudah sering melihat pemandangan ini
setiap hari. Namun berbeda untuk hari ini. Hari ini semua ekpresi itu menjadi
satu. Bahkan terdapat ekspresi yang siap memakan siapa saja yang memanggil
namanya.
Keanehan pada hari ini terjadi karena
pemerintah mengumumkan beberapa jumlah murid yang dapat menggantungkan
impiannya pada ujian masuk universitas ‘tanpa tes’.
Ya mungkin bahasa kininya adalah undangan
untuk universitas.
Sejak pagi, semua siswa berwajah takut. Yang
berwajah tidak peduli pun diam-diam mengumpat dalam hati. Ntah munafik atau
tidak, saya pun tidak peduli namun ingin tahu apa hasil yang diberikan
pemerintah kepada hasil belajar saya selama 3 tahun.
Saya belajar banyak mengenai penolakan. Namun
ketika saya melihat wajah bahagia dari teman saya, seketika itu juga saya lupa
dengan rasanya ditolak. Dan saya tidak mau merasakannya. Perasaan egois muncul
dalam diri. Berdoa dan berdoa.
Dan ternyata saya termasuk dari beberapa
siswa yang diberi ucapan selamat dalam websitenya.
Senang? Tentu.
Namun tiba-tiba saya menyadari, kalau saya
diterima pada tahap ini, apa yang harus saya lakukan ditahap berikutnya? Jurusan
apa yang akan saya ambil? Kebimbangan pun muncul. Dan saat itu pula saya
berharap kembali ke beberapa menit yang lalu dan berdoa agar saya ditolak.
Bukan bermaksud sombong, tapi saya tau ini
adalah sebuah wadah untuk setiap orang berharap. Dan saya adalah orang. Dan saya
akan berharap. Dan saya benci berharap untuk sesuatu saya tau jawabannya tidak
sesuai dengan harapan saya.
Berbagai suara dari guru-guru menghantui
saya.
“kamu gamungkin masuk ips. Kamu kan ipa”
“kamu membuang kesempatan”
“sayang sekali kalo tidak ambil ipa”
memang benar saya ingin mengambil jurusan social
yang jelas bukan jurusan saya sekarang. Saya dalam kebimbangan. Apa saya
mengikuti hati atau mengikuti kata lingkungan.
Kalau seandainya pada tahap tadi saya
ditolak, sekarang saya sudah dalam proses memantapkan hati dan pikiran untuk
berjuang di ujian tertulis dan saya jelas mengharapkan sesuatu yang dapat saya
usahakan.
Kalau sudah begini, saya pasti akan
mengambil jurusan social untuk ujian tanpa tes ini.
Walaupun saya tau, saya paham, saya mengerti
bahwa saya tidak akan diterima dalam jalur ini, namun saya tidak bisa munafik. Saya
tetap berharap walau hanya setitik. Saya masih berdoa untuk kesempatan ini.
Bodoh memang, namun saya manusia biasa yang
gemar berharap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar